Zee turun dari bus yang tadi ia tumpangi saat bus itu berhenti di depan kampusnya. Kemudian ia menyeberangi jalan raya untuk mencapai gerbang kampus.
" ZEE !!'' zee berhenti saat mendengar namanya di panggil oleh seseorang. Dia mencari sumber suara tersebut.
Terlihat dikejauhan seorang cewek berjalan cepat ke arahnya.
"zee tunggu !!'' teriak cewek itu sekali lagi saat dia sudah berjarak 10 meter dari Zee.
''hai Ra.'' sapa Zee saat cewek itu sudah sampai di hadapannya.
"hai Zee. Bareng ya ke kelasnya'' ucap cewek itu sambil tersenyum.
"oke, ayo deh kalau gitu'' ajak Zee.
Mereka pun bersama-sama berjalan menuju kelasnya yang ada di lantai tiga.
Zee dan Hera mulai menaiki anak tangga satu persatu.
"ngomong-ngomong kamu sendirian aja Zee ?" tanya Hera.
"iya nih, kalau berangkat kan aku emang sendiri, Ra." Jelas Zee. " Kamu sendiri nggak bareng sama Tasya ?"
"oh.. Dia hari ini berangkat agak siang katanya. Tapi mungkin sebentar lagi dia juga sampai." Hera menjawab sambil memperhatikan sekitarnya. Sepi.
Zee heran dengan apa yang dilakukan Hera.
"kenapa, Ra ?"
Dia ikut memperhatikan sekitarnya. Berharap dia menemukan apa yang mungkin Hera cari.
"sekarang jam berapa sih, Zee ?" tanya Hera dengan kening mengernyit.
Zee melihat jam tangan biru berbentuk kartun doraemon di pergelangan tangan kirinya. Jam tangannya menunjukkan pukul 7.30.
"jam setengah delapan, Ra. Kenapa sih ? Kok kamu celingak-celinguk gitu ?"
"nggak apa-apa. Heran aja, jam setengah 8 kenapa kampus masih sepi dan belum menunjukkan adanya kegiatan ?"
Zee mengangguk sependapat dengan Hera.
"iya, ya. Masih sepi banget"
Mereka telah sampai di lantai tiga. Ternyata pintu koridor R. 3.2 masih tertutup. Hera menghampiri pintu tersebut dan membukanya.
Namun tidak bisa. Kemungkinan pintunya masih dikunci.
"kenapa ,Ra ? "tanya Zee
"pintunya nggak bisa dibuka, kayaknya masih dikunci. Kita duduk dibangku itu dulu aja.'' Hera menunjuk bangku besi panjang yang ada di depan aula. Kemudian dia berjalan mendekati lalu mendudukinya.
Zee pun melakukan hal yang sama.
"tumben sih jam segini belum dibuka pintunya ?''
zee tidak mendengar jawaban dari hera. Dia menoleh ke arah hera dan mendapati hera sedang asyik foto selfie. Zee memutar bola matanya jengah.
Pagi-pagi gini udah selfie aja. Ckckc.
Pikir Zee sambil geleng-geleng kepala menatap Hera.
"Ra, ini masih pagi loh ''
''biarin sih, Zee. Justru karena masih pagi itu,.... kan muka ku masih fresh dan lagi pula sekarang masih sepi kok'' Hera membela dirinya sendiri.
Selagi Hera berselfie ria dan Zee akhirnya fokus pada ponsel yang ada di tangannya, seorang cewek berjalan ditangga. Salah satu teman sekelas mereka.
"hai, Ra, Zee'' sapanya.
Zee dan Hera berpaling ke arah suara, mereka menemukan Bia yang juga sedang menempati kursi besi.
"belum dibuka pintunya ?'' Bia bertanya setelah melihat pintu koridor masih tertutup.
"iya. Tumben banget pak cecep jam segini belum buka pintu'' Zee yang menjawab karena dia tidak mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Hera,
jangan ditanya anak itu sedang apa. Dia masih melanjutkan sesi selfie pagi harinya. Sekali lagi Zee menatap Hera.
"apa sih, Zee ? Mau ikutan ? Ayo !'' Hera berkata saat dia merasa dipandangi.
Zee menggelengkan kepala sebagai jawaban. Zee mendengar kikikan kecil dari Bia. Dia menoleh dan mengangkat bahunya acuh, lalu kembali sibuk pada ponselnya masing-masing.
15 menit berlalu. Para mahasiswa sudah mulai banyak yang datang. Terdengar suara ketukan sepatu dari arah tangga. Dua orang cewek sedang menaiki tangga. Zee menebak mereka adalah mahasiswa kelas sebelah.
Zee, Bia, dan Hera memandang kedua cewek tersebut.
Saat cewek-cewek itu berada di ujung tangga dan memengang handle pintu Zee membuka suaranya ingin memberitahu.
" itu pintu.....nya......'' suara Zee semakin mengecil saat melihat pintu itu terbuka.
Oh no !
Ekspresi Zee sulit tergambarkan. Matanya melotot memandang dua orang cewek yang sudah masuk ke dalam koridor. Mulutnya telihat membuka kemudian menutup, membuka dan menutup lagi sampai beberapa kali.
Zee menutup mulut menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering akibat dia membuka mulut terlalu lama karena shock. Dia menoleh ke arah dua temannya, dan menemukan ekspresi yang sama diwajah keduanya.
Lalu mereka saling pandang dalam diam, dan.......
HAHAHAHA
terdengar suara tawa yang meledak secara tiba-tiba. Mereka terus tertawa sampai mata mereka berair dan otot perut terasa kencang.
"oh my god.. Oh my god'' seru Hera berulang-ulang.sedangkan yang lainnya masih belum bisa berhenti tertawa.
"Hera, kamu gimana sih ? Hhh.. Kamu tadi buka-nya ke arah mana ?'' tanya Zee setelah sedikit berhasil meredakan tawanya.
"ke ha...arah haha...dalam'' jawab Hera di sela-sela tawanya.
Oh , Demi apa pun !!. Pintu itu harusnya di buka ke luar, bukan ke dalam. Jelas saja tidak terbuka. Salah arah.
"ya ampun. Terus kamu nggak coba buka pintunya Zee ?'' kali ini Bia yang bertanya dengan nafas putus-putus.
Zee menggeleng.
"terus ngapain kita dari tadi nunggu di sini !'' ujar Bia kemudian tertawa lagi. " udah ha... Ayo masuk..haha...''
mereka beranjak masuk koridor dan membuka pintu kelas. Setelah duduk di kursi masing-masing, mereka melanjutkan tawaya mengingat kebodohan mereka.
Hera yang salah arah membuka pintu, lebih bodoh lagi Zee tidak ikut mencoba membuka. Dan dengan seenak jidat Bia datang langsung duduk di kursi.
Benar-benar bodoh. Untung saja mereka baru bertiga dan tidak ada orang lain yang menyadari kobodohan mereka.
*****
END
" ZEE !!'' zee berhenti saat mendengar namanya di panggil oleh seseorang. Dia mencari sumber suara tersebut.
Terlihat dikejauhan seorang cewek berjalan cepat ke arahnya.
"zee tunggu !!'' teriak cewek itu sekali lagi saat dia sudah berjarak 10 meter dari Zee.
''hai Ra.'' sapa Zee saat cewek itu sudah sampai di hadapannya.
"hai Zee. Bareng ya ke kelasnya'' ucap cewek itu sambil tersenyum.
"oke, ayo deh kalau gitu'' ajak Zee.
Mereka pun bersama-sama berjalan menuju kelasnya yang ada di lantai tiga.
Zee dan Hera mulai menaiki anak tangga satu persatu.
"ngomong-ngomong kamu sendirian aja Zee ?" tanya Hera.
"iya nih, kalau berangkat kan aku emang sendiri, Ra." Jelas Zee. " Kamu sendiri nggak bareng sama Tasya ?"
"oh.. Dia hari ini berangkat agak siang katanya. Tapi mungkin sebentar lagi dia juga sampai." Hera menjawab sambil memperhatikan sekitarnya. Sepi.
Zee heran dengan apa yang dilakukan Hera.
"kenapa, Ra ?"
Dia ikut memperhatikan sekitarnya. Berharap dia menemukan apa yang mungkin Hera cari.
"sekarang jam berapa sih, Zee ?" tanya Hera dengan kening mengernyit.
Zee melihat jam tangan biru berbentuk kartun doraemon di pergelangan tangan kirinya. Jam tangannya menunjukkan pukul 7.30.
"jam setengah delapan, Ra. Kenapa sih ? Kok kamu celingak-celinguk gitu ?"
"nggak apa-apa. Heran aja, jam setengah 8 kenapa kampus masih sepi dan belum menunjukkan adanya kegiatan ?"
Zee mengangguk sependapat dengan Hera.
"iya, ya. Masih sepi banget"
Mereka telah sampai di lantai tiga. Ternyata pintu koridor R. 3.2 masih tertutup. Hera menghampiri pintu tersebut dan membukanya.
Namun tidak bisa. Kemungkinan pintunya masih dikunci.
"kenapa ,Ra ? "tanya Zee
"pintunya nggak bisa dibuka, kayaknya masih dikunci. Kita duduk dibangku itu dulu aja.'' Hera menunjuk bangku besi panjang yang ada di depan aula. Kemudian dia berjalan mendekati lalu mendudukinya.
Zee pun melakukan hal yang sama.
"tumben sih jam segini belum dibuka pintunya ?''
zee tidak mendengar jawaban dari hera. Dia menoleh ke arah hera dan mendapati hera sedang asyik foto selfie. Zee memutar bola matanya jengah.
Pagi-pagi gini udah selfie aja. Ckckc.
Pikir Zee sambil geleng-geleng kepala menatap Hera.
"Ra, ini masih pagi loh ''
''biarin sih, Zee. Justru karena masih pagi itu,.... kan muka ku masih fresh dan lagi pula sekarang masih sepi kok'' Hera membela dirinya sendiri.
Selagi Hera berselfie ria dan Zee akhirnya fokus pada ponsel yang ada di tangannya, seorang cewek berjalan ditangga. Salah satu teman sekelas mereka.
"hai, Ra, Zee'' sapanya.
Zee dan Hera berpaling ke arah suara, mereka menemukan Bia yang juga sedang menempati kursi besi.
"belum dibuka pintunya ?'' Bia bertanya setelah melihat pintu koridor masih tertutup.
"iya. Tumben banget pak cecep jam segini belum buka pintu'' Zee yang menjawab karena dia tidak mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Hera,
jangan ditanya anak itu sedang apa. Dia masih melanjutkan sesi selfie pagi harinya. Sekali lagi Zee menatap Hera.
"apa sih, Zee ? Mau ikutan ? Ayo !'' Hera berkata saat dia merasa dipandangi.
Zee menggelengkan kepala sebagai jawaban. Zee mendengar kikikan kecil dari Bia. Dia menoleh dan mengangkat bahunya acuh, lalu kembali sibuk pada ponselnya masing-masing.
15 menit berlalu. Para mahasiswa sudah mulai banyak yang datang. Terdengar suara ketukan sepatu dari arah tangga. Dua orang cewek sedang menaiki tangga. Zee menebak mereka adalah mahasiswa kelas sebelah.
Zee, Bia, dan Hera memandang kedua cewek tersebut.
Saat cewek-cewek itu berada di ujung tangga dan memengang handle pintu Zee membuka suaranya ingin memberitahu.
" itu pintu.....nya......'' suara Zee semakin mengecil saat melihat pintu itu terbuka.
Oh no !
Ekspresi Zee sulit tergambarkan. Matanya melotot memandang dua orang cewek yang sudah masuk ke dalam koridor. Mulutnya telihat membuka kemudian menutup, membuka dan menutup lagi sampai beberapa kali.
Zee menutup mulut menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering akibat dia membuka mulut terlalu lama karena shock. Dia menoleh ke arah dua temannya, dan menemukan ekspresi yang sama diwajah keduanya.
Lalu mereka saling pandang dalam diam, dan.......
HAHAHAHA
terdengar suara tawa yang meledak secara tiba-tiba. Mereka terus tertawa sampai mata mereka berair dan otot perut terasa kencang.
"oh my god.. Oh my god'' seru Hera berulang-ulang.sedangkan yang lainnya masih belum bisa berhenti tertawa.
"Hera, kamu gimana sih ? Hhh.. Kamu tadi buka-nya ke arah mana ?'' tanya Zee setelah sedikit berhasil meredakan tawanya.
"ke ha...arah haha...dalam'' jawab Hera di sela-sela tawanya.
Oh , Demi apa pun !!. Pintu itu harusnya di buka ke luar, bukan ke dalam. Jelas saja tidak terbuka. Salah arah.
"ya ampun. Terus kamu nggak coba buka pintunya Zee ?'' kali ini Bia yang bertanya dengan nafas putus-putus.
Zee menggeleng.
"terus ngapain kita dari tadi nunggu di sini !'' ujar Bia kemudian tertawa lagi. " udah ha... Ayo masuk..haha...''
mereka beranjak masuk koridor dan membuka pintu kelas. Setelah duduk di kursi masing-masing, mereka melanjutkan tawaya mengingat kebodohan mereka.
Hera yang salah arah membuka pintu, lebih bodoh lagi Zee tidak ikut mencoba membuka. Dan dengan seenak jidat Bia datang langsung duduk di kursi.
Benar-benar bodoh. Untung saja mereka baru bertiga dan tidak ada orang lain yang menyadari kobodohan mereka.
*****
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar