#Attribution1 { height:0px; visibility:hidden; display:none }

Senin, 15 Juni 2015

Menata Hati



"Kembali lah padaku Vee'' 

Berkali-kali Ia mendengar kalimat itu dari mulut laki-laki yang ada di hadapannya ini.
Lelaki yang selama 3 tahun masa SMA-nya selalu menemani. Lelaki yang mengenalkannya pada rasa bahagia karena dicintai dan mencintai. Sekaligus lelaki yang mengenalkannya pada rasa sakit akibat ditinggalkan.

"Tidak Ian, aku..... Aku belum bisa''jawab Vee lirih.

 Gadis itu menunduk menatap ujung sepatunya yang di rasa lebih nyaman untuk di pandang di bandingkan dengan laki-laki yang ada di hadapannya.
Bukan. Bukan karena laki-laki ini tidak tampan. Tian sangat tampan dan memang sedari dulu Tian adalah salah satu most wanted cool guy di sekolahya.

Vee hanya takut ia tidak akan sanggup menahan air mata yang sedari tadi ia tahan apabila ia melihat mata hitam bening itu. Mata yang selalu berhasil membawanya tenggelam kedalamnya. Ia benci dengan kenyataan bahwa hatinya melemah jika harus berhadapan dengan Tian.

Ia tak ingin kembali padanya. Oh bukan, ia hanya belum ingin, ia sedang menata hatinya . 

Ini bukan pertama kalinya laki-laki  itu memintanya kembali setelah meninggalkannya. Bukan karena trauma vee menolaknya untuk kembali kali ini. Vee hanya ingin memperbaiki dirinya, dan juga memberi kesempatan untuk Tian juga memperbaiki diri.

Kalau ditanya masih samakah perasaan Vee untuk Tian. Jawabannya adalah sama. Dan tidak akan pernah berubah.

Sungguh ia masih sangat menyayangi Tian. Tapi jika ia menerima Tian kembali ia takut ia takkan mampu bangkit kembali jika laki-laki itu meninggalkannya sekali lagi. Bayangan akan rasa sakit karena di tinggal pergi laki-laki itu selalu terbayang, dan berhasil membuat Vee selalu terbangun di tengah malam dan akan berlanjut dengan melamun sampai subuh tiba.

Ia tak ingin menambah lingkar hitam di matanya. 

Tidak. Belum saatnya mereka bersatu, jika mereka sama-sama dalam kondisi labil seperti ini.
Tian yang mudah bosan dan dirinya sendiri yang selalu pasrah menerima keputusan yang Tian ambil.  

Hubungan mereka tidak akan berhasil sampai kapanpun jika mereka masih labil seperti saat ini.

Biarlah mereka berjalan sendiri-sendiri dulu, hingga nanti takdir Tuhan yang mungkin akan menyatukan jalan mereka.

END

Senin, 11 Mei 2015

The Door

Zee turun dari bus yang tadi ia tumpangi saat bus itu berhenti di depan kampusnya. Kemudian ia menyeberangi jalan raya untuk mencapai gerbang kampus.

" ZEE !!'' zee berhenti saat mendengar namanya di panggil oleh seseorang. Dia mencari sumber suara tersebut.
Terlihat dikejauhan seorang cewek berjalan cepat ke arahnya.

"zee tunggu !!'' teriak cewek itu sekali lagi saat dia sudah berjarak 10 meter dari Zee.

''hai Ra.'' sapa Zee saat cewek itu sudah sampai di hadapannya.

"hai Zee. Bareng ya ke kelasnya'' ucap cewek itu sambil tersenyum.

"oke, ayo deh kalau gitu'' ajak Zee.

Mereka pun bersama-sama berjalan menuju kelasnya yang ada di lantai tiga.
Zee dan Hera mulai menaiki anak tangga satu persatu.

"ngomong-ngomong kamu sendirian aja Zee ?" tanya Hera.
"iya nih, kalau berangkat kan aku emang sendiri, Ra." Jelas Zee. " Kamu sendiri nggak bareng sama Tasya ?"

"oh.. Dia hari ini berangkat agak siang katanya. Tapi mungkin sebentar lagi dia juga sampai." Hera menjawab sambil memperhatikan sekitarnya. Sepi.
Zee heran dengan apa yang dilakukan Hera.

 "kenapa, Ra ?"
 Dia ikut memperhatikan sekitarnya. Berharap dia menemukan apa yang mungkin Hera cari.

"sekarang jam berapa sih, Zee ?" tanya Hera dengan kening mengernyit.
Zee melihat jam tangan biru berbentuk kartun doraemon di pergelangan tangan kirinya. Jam tangannya menunjukkan pukul 7.30.

"jam setengah delapan, Ra. Kenapa sih ? Kok kamu celingak-celinguk gitu ?"

"nggak apa-apa. Heran aja, jam setengah 8 kenapa kampus masih sepi dan belum menunjukkan adanya kegiatan ?"
Zee mengangguk sependapat dengan Hera.
"iya, ya. Masih sepi banget"

Mereka telah sampai di lantai tiga. Ternyata pintu koridor R. 3.2 masih tertutup. Hera menghampiri pintu tersebut dan membukanya.
Namun tidak bisa. Kemungkinan pintunya masih dikunci.
"kenapa ,Ra ? "tanya Zee

"pintunya nggak bisa dibuka, kayaknya masih dikunci. Kita duduk dibangku itu dulu aja.'' Hera menunjuk bangku besi panjang yang ada di depan aula. Kemudian dia berjalan mendekati lalu mendudukinya.

Zee pun melakukan hal yang sama.
"tumben sih jam segini belum dibuka pintunya ?''
zee tidak mendengar jawaban dari hera. Dia menoleh ke arah hera dan mendapati hera sedang asyik foto selfie. Zee memutar bola matanya jengah.

Pagi-pagi gini udah selfie aja. Ckckc.

Pikir Zee sambil geleng-geleng kepala menatap Hera.
"Ra, ini masih pagi loh ''

''biarin sih, Zee. Justru karena masih pagi itu,.... kan muka ku masih fresh dan lagi pula sekarang masih sepi kok'' Hera membela dirinya sendiri.
Selagi Hera berselfie ria dan Zee akhirnya fokus pada ponsel yang ada di tangannya, seorang cewek berjalan ditangga. Salah satu teman sekelas mereka.

"hai, Ra, Zee'' sapanya.
Zee dan Hera berpaling ke arah suara, mereka menemukan Bia yang juga sedang menempati kursi besi.
"belum dibuka pintunya ?'' Bia bertanya setelah melihat pintu koridor masih tertutup.

"iya. Tumben banget pak cecep jam segini belum buka pintu'' Zee yang menjawab karena dia tidak mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Hera,
jangan ditanya anak itu sedang apa. Dia masih melanjutkan sesi selfie pagi harinya. Sekali lagi Zee menatap Hera.

"apa sih, Zee ? Mau ikutan ? Ayo !'' Hera berkata saat dia merasa dipandangi.
Zee menggelengkan kepala sebagai jawaban. Zee mendengar kikikan kecil dari Bia. Dia menoleh dan mengangkat bahunya acuh, lalu kembali sibuk pada ponselnya masing-masing.

15 menit berlalu. Para mahasiswa sudah mulai banyak yang datang. Terdengar suara ketukan sepatu dari arah tangga. Dua orang cewek sedang menaiki tangga. Zee menebak mereka adalah mahasiswa kelas sebelah.
Zee, Bia, dan Hera memandang kedua cewek tersebut.
Saat cewek-cewek itu berada di ujung tangga dan memengang handle pintu Zee membuka suaranya ingin memberitahu.
" itu pintu.....nya......'' suara Zee semakin mengecil saat melihat pintu itu terbuka.

Oh no !

Ekspresi Zee sulit tergambarkan. Matanya melotot memandang dua orang cewek yang sudah masuk ke dalam koridor. Mulutnya telihat membuka kemudian menutup, membuka dan menutup lagi sampai beberapa kali.

Zee menutup mulut menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering akibat dia membuka mulut terlalu lama karena shock. Dia menoleh ke arah dua temannya, dan menemukan ekspresi yang sama diwajah keduanya.
Lalu mereka saling pandang dalam diam, dan.......

HAHAHAHA

terdengar suara tawa yang meledak secara tiba-tiba. Mereka terus tertawa sampai mata mereka berair dan otot perut terasa kencang.

"oh my god.. Oh my god'' seru Hera berulang-ulang.sedangkan yang lainnya masih belum bisa berhenti tertawa.

"Hera, kamu gimana sih ? Hhh.. Kamu tadi buka-nya ke arah mana ?'' tanya Zee setelah sedikit berhasil meredakan tawanya.

"ke ha...arah haha...dalam'' jawab Hera di sela-sela tawanya.
Oh , Demi apa pun !!. Pintu itu harusnya di buka ke luar, bukan ke dalam. Jelas saja tidak terbuka. Salah arah.

"ya ampun. Terus kamu nggak coba buka pintunya Zee ?'' kali ini Bia yang bertanya dengan nafas putus-putus.
Zee menggeleng.

"terus ngapain kita dari tadi nunggu di sini !'' ujar Bia kemudian tertawa lagi. " udah ha... Ayo masuk..haha...''
mereka beranjak masuk koridor dan membuka pintu kelas. Setelah duduk di kursi masing-masing, mereka melanjutkan tawaya mengingat kebodohan mereka.

Hera yang salah arah membuka pintu, lebih bodoh lagi Zee tidak ikut mencoba membuka. Dan dengan seenak jidat Bia datang langsung duduk di kursi.
Benar-benar bodoh. Untung saja mereka baru bertiga dan tidak ada orang lain yang menyadari kobodohan mereka.
*****
END

Seujung Kuku

"Peia.. !''
Cassiopeia Maharani tengah serius membaca buku saat sebuah suara memanggil namanya.

Saat ini Peia sedang duduk di salah satu bangku panjang yang terbuat dari kayu yang ada di taman universitasnya. Ia mengalihkan pandangannya dari buku dan mencari sumber suara. Tampak seorang lelaki berjalan ke arahnya. Senyum lebar tersungging di wajah tampan lelaki itu hingga menampakkan deretan giginya yang putih. Peia balas tersenyum lebar begitu tau siapa lelaki tersebut.

Rigel Cepheus Pratama. Laki-laki yang sejak 6 bulan yang lalu telah berstatus menjadi pacarnya.

Rigel langsung duduk di tempat kosong di samping Peia.
"Kamu udah lama disini ?''

''Lumayan. Hampir menghabiskan setengah dari jumlah halaman di buku ini'' Jawab Peia sambil menunjukkan buku ditangannya.
"Maaf ya.. '' Rigel merasa bersalah pada gadisnya ini.

"Hei. Kamu nggak usah memasang ekspresi seperti itu di wajahmu. Itu menggelikan. Kamu masih ada mata kuliah lagi ?''

 "Nggak kok. Tadi yang terakhir. Kamu udah makan siang ?''

Peia menggeleng. "Belum. Aku nunggu kamu'' jawabnya sambil tersenyum.

Ah betapa manisnya gadis dihadapannya ini saat tersenyum. Pikir Rigel.

"Mau makan siang sekarang ?'' tanya Rigel yang hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Peia, lalu Peia memasukkan bukunya ke dalam tas.

Rigel berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Peia bangkit. Sesaat Peia memandang tangan Rigel kemudian beralih ke wajahnya yang sudah terukir senyum menawah disana. 

Peia ikut tersenyum lalu Perlahan meraih uluran  tangan Rigel dan bangkit.

Rigel menggenggam tangan Peia erat.
"yuk !'' ajaknya.

Mereka berjalan menuju kantin dengan tangan yang saling menggenggam.

***

Lampu penerang mulai padam. Bangku-bangku yang ada telah terisi penuh. Film pun mulai diputar.

Peia dan Rigel duduk berdampingan diantara puluhan orang lainnya yang juga  menonton film dalam theater disalah satu Mall besar di Tangerang. Seperti ajakan Rigel tadi siang saat mereka makan di kantin.

Tangan keduanya saling mengenggam satu sama lain.
Sesekali mereka tertawa ketika ada adegan lucu dalam film.

"Peia...'' panggil Rigel.
''hmm..''
''Peia...'' panggil Rigel lagi karena hanya mendapat jawaban berupa gumaman dari Peia.
''apa sih, Gel ?'' akhirnya Peia menatap Rigel dan menemukan mata Rigel yang juga kini telah menatap ke arahnya. Mata mereka bertemu membuat jantung Peia berdetak lebih cepat. Hati peia menghangat.

Ya tuhan ! Jangan sampai aku pingsan gara-gara tatapan cowok satu ini. Batin peia.

Peia mengatur detak jantungnya agar lebih tenang dan berusaha tidak terlihat gugup akan tatapan memabukkan milik Rigel.
"ada apa Rigel ?''

Rigel tersenyum manis. Sangat manis. Peia merutuki diri lagi. Kalau dia terus tersenyum seperti itu, lama-lama aku bisa terkena diabetes.

"aku mau jujur sama kamu''

Dahi Peia mengernyit bingung namun di jawab juga "jujur aja. Kenapa harus minta izin dulu sih''.

''ah..nggak jadi deh..'' Rigel kembali mengahadap layar.

Sikap Rigel membuat Peia penasaran. Apa sih yang mau dibicarakan Rigel.
"Kamu mau ngomong apa ?'' tanya Peia berusaha menarik perhatian Rigel kembali.

"mmmm...''

***

Peia membaringkan tubuhnya di ranjang kamarnya. Senyum lebar dibibirnya tidak pernah pudar semenjak dari bioskop tadi.

Ada suatu hal yang membuat ia merasa terbang melayang seperti itu.
Peia semakin mengembangkan senyumnya hingga mungkin kalau terlalu lama akan mengakibatkan giginya yang putih dan rapi itu kering. Dia mengingat peristiwa di dalam bioskop tadi.

"mmm...'' Rigel sengaja menggantung ucapannya agar gadis disebelahnya semakin penasaran. Dia menyukai ekspresi wajah Peia saat penasaran yang menurutnya sangat menggemaskan.

"Gel, jangan buat aku penasaran. Itu menyebalkan tahu nggak !'' ucap Peia mengerucutkan bibirnya.

Rigel berusaha menahan tawanya agar tidak meledak. Dia berdehem. "Aku takut kamu kecewa setelah mendengar apa yang akan aku omongin''.

Peia diam. Menunggu ucapan Rigel selanjutnya.
Entah mengapa suasana seperti ini sangat tidak disukainya. Ia merasa tidak tenang, menerka-nerka apa yang akan dibicarakan oleh Rigel.

"Peia, Sebenarnya.... rasa sayang aku untuk kamu nggak lebih dari seujung kuku....
" Rigel menghentikan ucapannya. Dia ingin melihat reaksi Peia setelah mendengar pengakuannya.

Peia semakin terdiam sambil masih menatap Rigel.  Wajahnya menyiratkan keterkejutan yang luar biasa. Dia merasa bagai ada bogem yang menimpa jantungnya. Sesak.
Ia memandang ke dalam mata Rigel berharap Rigel hanya bergurau. Namun yang ia temukan hanya ada kesungguhan di sana. Matanya terasa panas. Pandangannya mengabur oleh air mata yang mulai menggenang dipelupuk. Hatinya teriris. Sakit. Sangat sakit.

 Ternyata yang ia takutkan selama ini benar. Rigel tidak benar-benar menyayanginya. Tidak seperti dirinya yang begitu menyayangi Rigel.

"ma...ma..maksud kamu apa, Gel ?'' tanya Peia dengan suara bergetar. Perlahan ia berusaha menarik tangannya yang masih ada dalam genggaman Rigel. Tapi Rigel menahannya.

"Lepas, Gel '' rintih Peia lirih. Ia berusaha lebih keras lagi untuk terlepas dari Rigel tapi Rigel semakin mempererat genggamannya. Rigel tak mau melepas tangan Peia.

"heii..'' Rigel menyentuh dagu Peia dengan tangan kanannya yang bebas dan membawanya untuk menatap wajahnya.
Peia menolak.
"Aku belum selesai ngomong. Lihat aku, Pei...''

Akhirnya Peia memberanikan diri untuk menatap Rigel lagi. Melihat tatapan terluka Peia, membuat Rigel sangat merasa bersalah pada gadisnya ini.

Apa aku udah keterlaluan ? Pikirnya sejenak.
Tapi Rigel tetap harus melanjutkan ucapannya. Dia tidak bisa mundur lagi.
Dia tidak bisa dan tidak mau memendamnya lebih lama lagi.

"Kamu tau kenapa aku bilang seperti tadi ?''

''.....''

Melihat Peia tidak menjawab Rigel memutuskan untuk melanjutkan kalimatnya.
''Pei....Aku nggak mau bilang kalau sayang aku seluas samudera. Karena samudera bisa aja kering. Aku juga nggak mau bilang sayang aku
 sebesar gunung, karena gunung bisa saja hancur karena aktivitas vulkaniknya, aku pun nggak mau bilang  sayang aku seluas dan sebesar dunia atau bahkan alam semesta ini

karena kita tau bahwa alam semesta dan isinya akan hancur oleh kuasa-NYA. Aku nggak mau bilang itu semua ke kamu, Pei.
Aku cuman mau bilang kalau rasa sayang aku hanya seujung kuku.'' Rigel memberi jeda sebentar.

Lalu melanjutkan.
"'Kamu tau.... Kuku nggak akan pernah habis walau terus dipotong. Dia akan tetap tumbuh. Aku mau punya perasaan seperti itu untuk kamu Pei. Aku mau perasaan aku akan tetap tumbuh walau kamu terus memotongnya''

Rigel menatap Peia lembut sambil memasang senyum manis.

Piea meleleh mendengar ucapan Rigel. Air mata yang sedari tadi menggenang tak mampu ditahannya lagi. Peia menangis haru. Rasa sakit  yang tadi dirasakan tak lagi ada. Lenyap entah kemana, digantikan oleh perasaan haru dan lega yang amat sangat.

Sungguh dia baru menyadari bahwa ia menyayangi Rigel lebih dalam dari yang ia tahu sebelumnya.

"Kamu jahat !'' hanya kata itu yang  mampu ia ucapkan. Ia kehilangan kata-kata. Mungkin perbendaharaan katanya tertelan oleh tangisnya yang kian kencang. Untung saja penonton lain masih larut dalam alur film sehingga tidak ada yang menyadari apa yang terjadi pada dua insan manusia ini.

"Kenapa nangis...?'' tanya Rigel lembut.

Kyaaaa ! Pertanyaan bodoh macam apa itu. Kalau tidak dalam suasana seperti ini bisa dipastikan Peia akan menghadiahkan jitakan ke kepala laki-laki dihadapannya ini.

''hiks.. Aku pikir kamu....aku.. Aku takut kalau kamu...'' Peia tak mampu menyelesaikan kata-katanya.

"Sshh... Udah. Jangan nangis lagi ya. Aku nggak akan melakukan apa pun hal bodoh yang terpikir dalam kepala cantikmu itu.  Saat aku menyatakan perasaanku dulu ke kamu. Saat itu juga aku merasa pencarianku berhenti di kamu. Aku ingin menghilangkan image playboy yang selama ini melekat dalam diriku, Pei
.''

''Kamu adalah hal terindah yang pernah aku temukan dan aku miliki. Dan aku nggak mau kehilangan hal indah itu.'' kata Rigel sambil menghapus air mata yang masih mengalir di pipi Peia.

Peia mengelus tangannya sendiri. Tangan yang terus digenggam Rigel seharian ini. Jari jemari yang saling bertaut dengan jemari milik Rigel. Masih bisa dirasanya genggaman dan tautan Rigel di tangannya. Seolah tak mau pergi. Bayangan Rigel terasa nyata bagi Peia. Hingga kantuk membawa dirinya ke pulau mimpi yang telah menunggu hadirnya.
Malam ini Peia tidur dengan senyum lebar yang terukir di wajah cantiknya.

END

*****