"Kembali lah padaku Vee''
Berkali-kali Ia mendengar kalimat
itu dari mulut laki-laki yang ada di hadapannya ini.
Lelaki yang selama 3 tahun masa
SMA-nya selalu menemani. Lelaki yang mengenalkannya pada rasa bahagia karena dicintai
dan mencintai. Sekaligus lelaki yang mengenalkannya pada rasa sakit akibat
ditinggalkan.
"Tidak Ian, aku..... Aku
belum bisa''jawab Vee lirih.
Gadis itu menunduk menatap ujung sepatunya
yang di rasa lebih nyaman untuk di pandang di bandingkan dengan laki-laki yang
ada di hadapannya.
Bukan. Bukan karena laki-laki ini
tidak tampan. Tian sangat tampan dan memang sedari dulu Tian adalah salah satu
most wanted cool guy di sekolahya.
Vee hanya takut ia tidak akan
sanggup menahan air mata yang sedari tadi ia tahan apabila ia melihat mata
hitam bening itu. Mata yang selalu berhasil membawanya tenggelam kedalamnya. Ia
benci dengan kenyataan bahwa hatinya melemah jika harus berhadapan dengan Tian.
Ia tak ingin kembali padanya. Oh
bukan, ia hanya belum ingin, ia sedang menata hatinya .
Ini bukan pertama kalinya
laki-laki itu memintanya kembali setelah
meninggalkannya. Bukan karena trauma vee menolaknya untuk kembali kali ini. Vee
hanya ingin memperbaiki dirinya, dan juga memberi kesempatan untuk Tian juga
memperbaiki diri.
Kalau ditanya masih samakah
perasaan Vee untuk Tian. Jawabannya adalah sama. Dan tidak akan pernah berubah.
Sungguh ia masih sangat menyayangi
Tian. Tapi jika ia menerima Tian kembali ia takut ia takkan mampu bangkit
kembali jika laki-laki itu meninggalkannya sekali lagi. Bayangan akan rasa
sakit karena di tinggal pergi laki-laki itu selalu terbayang, dan berhasil
membuat Vee selalu terbangun di tengah malam dan akan berlanjut dengan melamun
sampai subuh tiba.
Ia tak ingin menambah lingkar
hitam di matanya.
Tidak. Belum saatnya mereka
bersatu, jika mereka sama-sama dalam kondisi labil seperti ini.
Tian yang mudah bosan dan dirinya
sendiri yang selalu pasrah menerima keputusan yang Tian ambil.
Hubungan mereka tidak akan
berhasil sampai kapanpun jika mereka masih labil seperti saat ini.
Biarlah mereka berjalan
sendiri-sendiri dulu, hingga nanti takdir Tuhan yang mungkin akan menyatukan
jalan mereka.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar