"Peia.. !''
Cassiopeia Maharani tengah serius membaca buku saat sebuah suara memanggil namanya.
Saat ini Peia sedang duduk di salah satu bangku panjang yang terbuat dari kayu yang ada di taman universitasnya. Ia mengalihkan pandangannya dari buku dan mencari sumber suara. Tampak seorang lelaki berjalan ke arahnya. Senyum lebar tersungging di wajah tampan lelaki itu hingga menampakkan deretan giginya yang putih. Peia balas tersenyum lebar begitu tau siapa lelaki tersebut.
Rigel Cepheus Pratama. Laki-laki yang sejak 6 bulan yang lalu telah berstatus menjadi pacarnya.
Rigel langsung duduk di tempat kosong di samping Peia.
"Kamu udah lama disini ?''
''Lumayan. Hampir menghabiskan setengah dari jumlah halaman di buku ini'' Jawab Peia sambil menunjukkan buku ditangannya.
"Maaf ya.. '' Rigel merasa bersalah pada gadisnya ini.
"Hei. Kamu nggak usah memasang ekspresi seperti itu di wajahmu. Itu menggelikan. Kamu masih ada mata kuliah lagi ?''
"Nggak kok. Tadi yang terakhir. Kamu udah makan siang ?''
Peia menggeleng. "Belum. Aku nunggu kamu'' jawabnya sambil tersenyum.
Ah betapa manisnya gadis dihadapannya ini saat tersenyum. Pikir Rigel.
"Mau makan siang sekarang ?'' tanya Rigel yang hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Peia, lalu Peia memasukkan bukunya ke dalam tas.
Rigel berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Peia bangkit. Sesaat Peia memandang tangan Rigel kemudian beralih ke wajahnya yang sudah terukir senyum menawah disana.
Peia ikut tersenyum lalu Perlahan meraih uluran tangan Rigel dan bangkit.
Rigel menggenggam tangan Peia erat.
"yuk !'' ajaknya.
Mereka berjalan menuju kantin dengan tangan yang saling menggenggam.
***
Lampu penerang mulai padam. Bangku-bangku yang ada telah terisi penuh. Film pun mulai diputar.
Peia dan Rigel duduk berdampingan diantara puluhan orang lainnya yang juga menonton film dalam theater disalah satu Mall besar di Tangerang. Seperti ajakan Rigel tadi siang saat mereka makan di kantin.
Tangan keduanya saling mengenggam satu sama lain.
Sesekali mereka tertawa ketika ada adegan lucu dalam film.
"Peia...'' panggil Rigel.
''hmm..''
''Peia...'' panggil Rigel lagi karena hanya mendapat jawaban berupa gumaman dari Peia.
''apa sih, Gel ?'' akhirnya Peia menatap Rigel dan menemukan mata Rigel yang juga kini telah menatap ke arahnya. Mata mereka bertemu membuat jantung Peia berdetak lebih cepat. Hati peia menghangat.
Ya tuhan ! Jangan sampai aku pingsan gara-gara tatapan cowok satu ini. Batin peia.
Peia mengatur detak jantungnya agar lebih tenang dan berusaha tidak terlihat gugup akan tatapan memabukkan milik Rigel.
"ada apa Rigel ?''
Rigel tersenyum manis. Sangat manis. Peia merutuki diri lagi. Kalau dia terus tersenyum seperti itu, lama-lama aku bisa terkena diabetes.
"aku mau jujur sama kamu''
Dahi Peia mengernyit bingung namun di jawab juga "jujur aja. Kenapa harus minta izin dulu sih''.
''ah..nggak jadi deh..'' Rigel kembali mengahadap layar.
Sikap Rigel membuat Peia penasaran. Apa sih yang mau dibicarakan Rigel.
"Kamu mau ngomong apa ?'' tanya Peia berusaha menarik perhatian Rigel kembali.
"mmmm...''
***
Peia membaringkan tubuhnya di ranjang kamarnya. Senyum lebar dibibirnya tidak pernah pudar semenjak dari bioskop tadi.
Ada suatu hal yang membuat ia merasa terbang melayang seperti itu.
Peia semakin mengembangkan senyumnya hingga mungkin kalau terlalu lama akan mengakibatkan giginya yang putih dan rapi itu kering. Dia mengingat peristiwa di dalam bioskop tadi.
"mmm...'' Rigel sengaja menggantung ucapannya agar gadis disebelahnya semakin penasaran. Dia menyukai ekspresi wajah Peia saat penasaran yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Gel, jangan buat aku penasaran. Itu menyebalkan tahu nggak !'' ucap Peia mengerucutkan bibirnya.
Rigel berusaha menahan tawanya agar tidak meledak. Dia berdehem. "Aku takut kamu kecewa setelah mendengar apa yang akan aku omongin''.
Peia diam. Menunggu ucapan Rigel selanjutnya.
Entah mengapa suasana seperti ini sangat tidak disukainya. Ia merasa tidak tenang, menerka-nerka apa yang akan dibicarakan oleh Rigel.
"Peia, Sebenarnya.... rasa sayang aku untuk kamu nggak lebih dari seujung kuku....
" Rigel menghentikan ucapannya. Dia ingin melihat reaksi Peia setelah mendengar pengakuannya.
Peia semakin terdiam sambil masih menatap Rigel. Wajahnya menyiratkan keterkejutan yang luar biasa. Dia merasa bagai ada bogem yang menimpa jantungnya. Sesak.
Ia memandang ke dalam mata Rigel berharap Rigel hanya bergurau. Namun yang ia temukan hanya ada kesungguhan di sana. Matanya terasa panas. Pandangannya mengabur oleh air mata yang mulai menggenang dipelupuk. Hatinya teriris. Sakit. Sangat sakit.
Ternyata yang ia takutkan selama ini benar. Rigel tidak benar-benar menyayanginya. Tidak seperti dirinya yang begitu menyayangi Rigel.
"ma...ma..maksud kamu apa, Gel ?'' tanya Peia dengan suara bergetar. Perlahan ia berusaha menarik tangannya yang masih ada dalam genggaman Rigel. Tapi Rigel menahannya.
"Lepas, Gel '' rintih Peia lirih. Ia berusaha lebih keras lagi untuk terlepas dari Rigel tapi Rigel semakin mempererat genggamannya. Rigel tak mau melepas tangan Peia.
"heii..'' Rigel menyentuh dagu Peia dengan tangan kanannya yang bebas dan membawanya untuk menatap wajahnya.
Peia menolak.
"Aku belum selesai ngomong. Lihat aku, Pei...''
Akhirnya Peia memberanikan diri untuk menatap Rigel lagi. Melihat tatapan terluka Peia, membuat Rigel sangat merasa bersalah pada gadisnya ini.
Apa aku udah keterlaluan ? Pikirnya sejenak.
Tapi Rigel tetap harus melanjutkan ucapannya. Dia tidak bisa mundur lagi.
Dia tidak bisa dan tidak mau memendamnya lebih lama lagi.
"Kamu tau kenapa aku bilang seperti tadi ?''
''.....''
Melihat Peia tidak menjawab Rigel memutuskan untuk melanjutkan kalimatnya.
''Pei....Aku nggak mau bilang kalau sayang aku seluas samudera. Karena samudera bisa aja kering. Aku juga nggak mau bilang sayang aku
sebesar gunung, karena gunung bisa saja hancur karena aktivitas vulkaniknya, aku pun nggak mau bilang sayang aku seluas dan sebesar dunia atau bahkan alam semesta ini
karena kita tau bahwa alam semesta dan isinya akan hancur oleh kuasa-NYA. Aku nggak mau bilang itu semua ke kamu, Pei.
Aku cuman mau bilang kalau rasa sayang aku hanya seujung kuku.'' Rigel memberi jeda sebentar.
Lalu melanjutkan.
"'Kamu tau.... Kuku nggak akan pernah habis walau terus dipotong. Dia akan tetap tumbuh. Aku mau punya perasaan seperti itu untuk kamu Pei. Aku mau perasaan aku akan tetap tumbuh walau kamu terus memotongnya''
Rigel menatap Peia lembut sambil memasang senyum manis.
Piea meleleh mendengar ucapan Rigel. Air mata yang sedari tadi menggenang tak mampu ditahannya lagi. Peia menangis haru. Rasa sakit yang tadi dirasakan tak lagi ada. Lenyap entah kemana, digantikan oleh perasaan haru dan lega yang amat sangat.
Sungguh dia baru menyadari bahwa ia menyayangi Rigel lebih dalam dari yang ia tahu sebelumnya.
"Kamu jahat !'' hanya kata itu yang mampu ia ucapkan. Ia kehilangan kata-kata. Mungkin perbendaharaan katanya tertelan oleh tangisnya yang kian kencang. Untung saja penonton lain masih larut dalam alur film sehingga tidak ada yang menyadari apa yang terjadi pada dua insan manusia ini.
"Kenapa nangis...?'' tanya Rigel lembut.
Kyaaaa ! Pertanyaan bodoh macam apa itu. Kalau tidak dalam suasana seperti ini bisa dipastikan Peia akan menghadiahkan jitakan ke kepala laki-laki dihadapannya ini.
''hiks.. Aku pikir kamu....aku.. Aku takut kalau kamu...'' Peia tak mampu menyelesaikan kata-katanya.
"Sshh... Udah. Jangan nangis lagi ya. Aku nggak akan melakukan apa pun hal bodoh yang terpikir dalam kepala cantikmu itu. Saat aku menyatakan perasaanku dulu ke kamu. Saat itu juga aku merasa pencarianku berhenti di kamu. Aku ingin menghilangkan image playboy yang selama ini melekat dalam diriku, Pei
.''
''Kamu adalah hal terindah yang pernah aku temukan dan aku miliki. Dan aku nggak mau kehilangan hal indah itu.'' kata Rigel sambil menghapus air mata yang masih mengalir di pipi Peia.
Peia mengelus tangannya sendiri. Tangan yang terus digenggam Rigel seharian ini. Jari jemari yang saling bertaut dengan jemari milik Rigel. Masih bisa dirasanya genggaman dan tautan Rigel di tangannya. Seolah tak mau pergi. Bayangan Rigel terasa nyata bagi Peia. Hingga kantuk membawa dirinya ke pulau mimpi yang telah menunggu hadirnya.
Malam ini Peia tidur dengan senyum lebar yang terukir di wajah cantiknya.
END
*****
Cassiopeia Maharani tengah serius membaca buku saat sebuah suara memanggil namanya.
Saat ini Peia sedang duduk di salah satu bangku panjang yang terbuat dari kayu yang ada di taman universitasnya. Ia mengalihkan pandangannya dari buku dan mencari sumber suara. Tampak seorang lelaki berjalan ke arahnya. Senyum lebar tersungging di wajah tampan lelaki itu hingga menampakkan deretan giginya yang putih. Peia balas tersenyum lebar begitu tau siapa lelaki tersebut.
Rigel Cepheus Pratama. Laki-laki yang sejak 6 bulan yang lalu telah berstatus menjadi pacarnya.
Rigel langsung duduk di tempat kosong di samping Peia.
"Kamu udah lama disini ?''
''Lumayan. Hampir menghabiskan setengah dari jumlah halaman di buku ini'' Jawab Peia sambil menunjukkan buku ditangannya.
"Maaf ya.. '' Rigel merasa bersalah pada gadisnya ini.
"Hei. Kamu nggak usah memasang ekspresi seperti itu di wajahmu. Itu menggelikan. Kamu masih ada mata kuliah lagi ?''
"Nggak kok. Tadi yang terakhir. Kamu udah makan siang ?''
Peia menggeleng. "Belum. Aku nunggu kamu'' jawabnya sambil tersenyum.
Ah betapa manisnya gadis dihadapannya ini saat tersenyum. Pikir Rigel.
"Mau makan siang sekarang ?'' tanya Rigel yang hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Peia, lalu Peia memasukkan bukunya ke dalam tas.
Rigel berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Peia bangkit. Sesaat Peia memandang tangan Rigel kemudian beralih ke wajahnya yang sudah terukir senyum menawah disana.
Peia ikut tersenyum lalu Perlahan meraih uluran tangan Rigel dan bangkit.
Rigel menggenggam tangan Peia erat.
"yuk !'' ajaknya.
Mereka berjalan menuju kantin dengan tangan yang saling menggenggam.
***
Lampu penerang mulai padam. Bangku-bangku yang ada telah terisi penuh. Film pun mulai diputar.
Peia dan Rigel duduk berdampingan diantara puluhan orang lainnya yang juga menonton film dalam theater disalah satu Mall besar di Tangerang. Seperti ajakan Rigel tadi siang saat mereka makan di kantin.
Tangan keduanya saling mengenggam satu sama lain.
Sesekali mereka tertawa ketika ada adegan lucu dalam film.
"Peia...'' panggil Rigel.
''hmm..''
''Peia...'' panggil Rigel lagi karena hanya mendapat jawaban berupa gumaman dari Peia.
''apa sih, Gel ?'' akhirnya Peia menatap Rigel dan menemukan mata Rigel yang juga kini telah menatap ke arahnya. Mata mereka bertemu membuat jantung Peia berdetak lebih cepat. Hati peia menghangat.
Ya tuhan ! Jangan sampai aku pingsan gara-gara tatapan cowok satu ini. Batin peia.
Peia mengatur detak jantungnya agar lebih tenang dan berusaha tidak terlihat gugup akan tatapan memabukkan milik Rigel.
"ada apa Rigel ?''
Rigel tersenyum manis. Sangat manis. Peia merutuki diri lagi. Kalau dia terus tersenyum seperti itu, lama-lama aku bisa terkena diabetes.
"aku mau jujur sama kamu''
Dahi Peia mengernyit bingung namun di jawab juga "jujur aja. Kenapa harus minta izin dulu sih''.
''ah..nggak jadi deh..'' Rigel kembali mengahadap layar.
Sikap Rigel membuat Peia penasaran. Apa sih yang mau dibicarakan Rigel.
"Kamu mau ngomong apa ?'' tanya Peia berusaha menarik perhatian Rigel kembali.
"mmmm...''
***
Peia membaringkan tubuhnya di ranjang kamarnya. Senyum lebar dibibirnya tidak pernah pudar semenjak dari bioskop tadi.
Ada suatu hal yang membuat ia merasa terbang melayang seperti itu.
Peia semakin mengembangkan senyumnya hingga mungkin kalau terlalu lama akan mengakibatkan giginya yang putih dan rapi itu kering. Dia mengingat peristiwa di dalam bioskop tadi.
"mmm...'' Rigel sengaja menggantung ucapannya agar gadis disebelahnya semakin penasaran. Dia menyukai ekspresi wajah Peia saat penasaran yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Gel, jangan buat aku penasaran. Itu menyebalkan tahu nggak !'' ucap Peia mengerucutkan bibirnya.
Rigel berusaha menahan tawanya agar tidak meledak. Dia berdehem. "Aku takut kamu kecewa setelah mendengar apa yang akan aku omongin''.
Peia diam. Menunggu ucapan Rigel selanjutnya.
Entah mengapa suasana seperti ini sangat tidak disukainya. Ia merasa tidak tenang, menerka-nerka apa yang akan dibicarakan oleh Rigel.
"Peia, Sebenarnya.... rasa sayang aku untuk kamu nggak lebih dari seujung kuku....
" Rigel menghentikan ucapannya. Dia ingin melihat reaksi Peia setelah mendengar pengakuannya.
Peia semakin terdiam sambil masih menatap Rigel. Wajahnya menyiratkan keterkejutan yang luar biasa. Dia merasa bagai ada bogem yang menimpa jantungnya. Sesak.
Ia memandang ke dalam mata Rigel berharap Rigel hanya bergurau. Namun yang ia temukan hanya ada kesungguhan di sana. Matanya terasa panas. Pandangannya mengabur oleh air mata yang mulai menggenang dipelupuk. Hatinya teriris. Sakit. Sangat sakit.
Ternyata yang ia takutkan selama ini benar. Rigel tidak benar-benar menyayanginya. Tidak seperti dirinya yang begitu menyayangi Rigel.
"ma...ma..maksud kamu apa, Gel ?'' tanya Peia dengan suara bergetar. Perlahan ia berusaha menarik tangannya yang masih ada dalam genggaman Rigel. Tapi Rigel menahannya.
"Lepas, Gel '' rintih Peia lirih. Ia berusaha lebih keras lagi untuk terlepas dari Rigel tapi Rigel semakin mempererat genggamannya. Rigel tak mau melepas tangan Peia.
"heii..'' Rigel menyentuh dagu Peia dengan tangan kanannya yang bebas dan membawanya untuk menatap wajahnya.
Peia menolak.
"Aku belum selesai ngomong. Lihat aku, Pei...''
Akhirnya Peia memberanikan diri untuk menatap Rigel lagi. Melihat tatapan terluka Peia, membuat Rigel sangat merasa bersalah pada gadisnya ini.
Apa aku udah keterlaluan ? Pikirnya sejenak.
Tapi Rigel tetap harus melanjutkan ucapannya. Dia tidak bisa mundur lagi.
Dia tidak bisa dan tidak mau memendamnya lebih lama lagi.
"Kamu tau kenapa aku bilang seperti tadi ?''
''.....''
Melihat Peia tidak menjawab Rigel memutuskan untuk melanjutkan kalimatnya.
''Pei....Aku nggak mau bilang kalau sayang aku seluas samudera. Karena samudera bisa aja kering. Aku juga nggak mau bilang sayang aku
sebesar gunung, karena gunung bisa saja hancur karena aktivitas vulkaniknya, aku pun nggak mau bilang sayang aku seluas dan sebesar dunia atau bahkan alam semesta ini
karena kita tau bahwa alam semesta dan isinya akan hancur oleh kuasa-NYA. Aku nggak mau bilang itu semua ke kamu, Pei.
Aku cuman mau bilang kalau rasa sayang aku hanya seujung kuku.'' Rigel memberi jeda sebentar.
Lalu melanjutkan.
"'Kamu tau.... Kuku nggak akan pernah habis walau terus dipotong. Dia akan tetap tumbuh. Aku mau punya perasaan seperti itu untuk kamu Pei. Aku mau perasaan aku akan tetap tumbuh walau kamu terus memotongnya''
Rigel menatap Peia lembut sambil memasang senyum manis.
Piea meleleh mendengar ucapan Rigel. Air mata yang sedari tadi menggenang tak mampu ditahannya lagi. Peia menangis haru. Rasa sakit yang tadi dirasakan tak lagi ada. Lenyap entah kemana, digantikan oleh perasaan haru dan lega yang amat sangat.
Sungguh dia baru menyadari bahwa ia menyayangi Rigel lebih dalam dari yang ia tahu sebelumnya.
"Kamu jahat !'' hanya kata itu yang mampu ia ucapkan. Ia kehilangan kata-kata. Mungkin perbendaharaan katanya tertelan oleh tangisnya yang kian kencang. Untung saja penonton lain masih larut dalam alur film sehingga tidak ada yang menyadari apa yang terjadi pada dua insan manusia ini.
"Kenapa nangis...?'' tanya Rigel lembut.
Kyaaaa ! Pertanyaan bodoh macam apa itu. Kalau tidak dalam suasana seperti ini bisa dipastikan Peia akan menghadiahkan jitakan ke kepala laki-laki dihadapannya ini.
''hiks.. Aku pikir kamu....aku.. Aku takut kalau kamu...'' Peia tak mampu menyelesaikan kata-katanya.
"Sshh... Udah. Jangan nangis lagi ya. Aku nggak akan melakukan apa pun hal bodoh yang terpikir dalam kepala cantikmu itu. Saat aku menyatakan perasaanku dulu ke kamu. Saat itu juga aku merasa pencarianku berhenti di kamu. Aku ingin menghilangkan image playboy yang selama ini melekat dalam diriku, Pei
.''
''Kamu adalah hal terindah yang pernah aku temukan dan aku miliki. Dan aku nggak mau kehilangan hal indah itu.'' kata Rigel sambil menghapus air mata yang masih mengalir di pipi Peia.
Peia mengelus tangannya sendiri. Tangan yang terus digenggam Rigel seharian ini. Jari jemari yang saling bertaut dengan jemari milik Rigel. Masih bisa dirasanya genggaman dan tautan Rigel di tangannya. Seolah tak mau pergi. Bayangan Rigel terasa nyata bagi Peia. Hingga kantuk membawa dirinya ke pulau mimpi yang telah menunggu hadirnya.
Malam ini Peia tidur dengan senyum lebar yang terukir di wajah cantiknya.
END
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar